Jumat, 12 Juli 2013

Arab Vs Israel, Perang Enam Hari

Bermula pada awal tahun 1965 hingga menjelang terjadinya perang pada Juni tahun 1967, serangan orang Palestina di perbatasan Israel telah menciptakan ketegangan antara kedua belah pihak.



Para penyerang umumnya berbasis di Suriah dan dilakukan atas perlindungan Organisasi Pembebasan Palestina.

Serangan perbatasan ini ternyata tidak hanya berdampak pada Israel saja tetapi juga pada Yordania dan Libanon.

Suriah, merasa khawatir akan pembalasan Israel, lantas meminta dukungan dari Mesir.

Menanggapi permintaan Suriah, Mesir lantas memindahkan pasukannya dari Semenanjung Sinai ke sepanjang perbatasan Suriah.

Bersamaan dengan itu, Mesir juga menandatangani perjanjian pertahanan dengan Yordania, memastikan kedua pihak saling mendukung saat terjadi serangan oleh Israel.

Perjanjian antara tiga negara Arab tersebut membuat konflik berada pada titik tertinggi yang memicu Perang Enam Hari.

Merasa dikelilingi oleh negara-negara yang siap menghancurkannya, Israel berinisiatif melakukan serangan lebih dulu (preemptive strike ).


Pada 43 tahun yang lalu, Perang Enam Hari di Timur Tengah berakhir. Pasukan Israel mengatasi kepungan militer negara-negara Arab sekaligus memperluas wilayah pendudukan. 

Laman The History Channel mengungkapkan bahwa perang itu berawal saat Israel baku tembak dengan kekuatan militer gabungan Mesir dan Suriah di perbatasan. Di sebelah timur, Yordania ikut menggempur Israel sehingga pasukan Negara Zionis itu kalah jumlah. 

Namun, berkat bantuan dari Amerika Serikat (AS) dan kedisiplinan pasukannya, Israel mampu meladeni kepungan tiga negara itu. Bahkan, Israel memperluas wilayahnya hingga tiga kali lipat. Kota tua Yerusalem juga berhasil direbut Israel dari Yordania. 


Pascaperang enam hari, fokus kelompok-kelompok perlawanan Palestina sedikit berubah, yaitu membebaskan Jalur Gaza dan Tepi Barat dari pendudukan Israel sebagai langkah awal kemerdekaan seluruh Palestina.

Salah satu masalah besar dalam konflik Israel-Palestina adalah status Jerusalem. Pada 1980, Israel menyatukan Jerusalem Barat dan Timur sekaligus mengklaim kota itu sebagai ibu kota negara Yahudi tersebut. Namun, Palestina juga mengklaim Jerusalem sebagai ibu kota mereka. Saling klaim Jerusalem ini menjadi salah satu ganjalan dalam proses perdamaian di Timur Tengah hingga kini.

Ganjalan lain yang menghambat proses perdamaian antara Israel dan Palestina adalah kebijakan Israel membangun permukiman Yahudi di wilayah pendudukannya. Kebijakan ini dilakukan sejak Partai Likud berkuasa di Israel pada 1977. Hingga 2003, terdapat sekitar 220.000 warga Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Selain itu, masih ditambah sekitar 200.000 warga Yahudi di Jerusalem dan wilayah yang diduduki sejak 1967.

Sumber : kompas.com
                amazine.co

0 komentar: