Kamis, 06 September 2012

Aktivis Greenpeace Berdemo


Beberapa anggota Greenpeace mengenakan kostum beruang raksasa kutub putih berbulu dan berguling-guling di salju buatan.

Sementara sebagian yang lain dirantai di pagar dekat kantor pusat perusahaan energi raksasa Rusia, Gazprom, di Moskwa.

Para aktivis Greenpeace ini berdemonstrasi mengenai rencana Pemerintah Rusia melakukan pengeboran minyak di Kutub Utara.
 
"Eksplorasi minyak di Kutub Utara pasti akan menghancurkan kawasan itu. Karena itu, Greenpeace ingin menciptakan zona konservasi di sekitar Kutub Utara," kata Roman Dolgov, koordinator Greenpeace Rusia.

Ia menambahkan, demonstrasi ini menunjukkan beruang kutub yang terusir dari habitat mereka karena perbuatan perusahaan-perusahaan minyak yang rakus.

"Beruang-beruang itu pindah ke sini dan menciptakan zona konservasi dekat kantor pusat Gazprom," tambah Dolgov.

Para demonstran juga membawa plakat-plakat yang bertulisan, "Miller, Your Driller is an Arctic Killer", atau "Miller, pengebor-pengebor kalian adalah pembunuh di Kutub Utara", yang ditujukan kepada Direktur Gazprom Alexei Miller.

Para demonstran juga memasang spanduk besar di pagar Gazprom yang bertulisan "Gazprom Kills Arctic" atau "Gazprom tengah membunuh Antartika".

Bulan lalu, anggota-anggota Greenpeace menduduki anjungan pengeboran minyak yang dijalankan oleh anak perusahaan Gazprom di Laut Pechora.

Para analis dan pakar lingkungan memperingatkan, pengeboran oleh Rusia di Kutub Utara bisa berbahaya kalau terjadi tumpahan minyak.

Sejauh ini Gazprom belum berkomentar tentang demonstrasi itu. Pemerintah Rusia, yang mengawasi Gazprom dengan ketat, terus-menerus bersikeras bahwa perusahaan itu telah mendapat izin dan peralatan yang sah untuk melakukan pengeboran.

Tetapi, sejak jatuhnya Uni Soviet, Rusia telah menghadapi sejumlah bencana karena tidak memiliki peralatan, pemeriksaan, dan infrastruktur yang aman.

Menurut Survei Geologi Amerika, kawasan utara Kutub Utara mengandung lebih dari 90 miliar barrel minyak dan lebih dari satu setengah triliun kaki kubik gas alam.

Sumber: internasional.kompas.com

0 komentar: