Jumat, 27 Juli 2012

AS Yakin Raih Emas Ganda Bulutangkis


Amerika Serikat jarang menjadi saingan menakutkan bagi para juara bulu tangkis Asia, tetapi perekrutan pemain senior asal Indonesia Tony Gunawan telah memberikan harapan bagi tim AS untuk meraih medali emas pertama di Olimpiade London sekaligus pemain kedua yang sepanjang karirnya bertanding di Olimpiade.


Gunawan yang selalu menjadi nomor satu pemain ganda putra, menjadi pahlawan Indonesia ketika dia bersama Candra Wijaya meraih emas Olimpiade Sidney 2000 di umurnya 25 tahun.


Setelah mengalahkan pasangan Korea Selatan Lee Dong-soo dan Yoo Yong-sung untuk meraih gelarnya, mereka kembali ke negaranya kemudian diarak dan dijamu secara resmi. Masing-masing diberi hadiah uang tunai dan rumah kecil dari pemerintah.


Masuknya Gunawan ke Tim AS memang tidak terlalu ramai dibicarakan, tetapi sedikit memberi harapan di antara penggemar bulu tangkis yang jumlahnya sedikit di negara itu.


Ia bersama pasangannya Howard Bach, pebulu tangkis Vietnam-California, bertekad meraih gelar dunia bulu tangkis pertama bagi AS.


"Saya tidak pernah berpikir akan kembali lagi untuk Olimpiade," kata Gunawan , Jumat WIB setelah latihan di Arena Wembley.


"Saya sesungguhnya berencana untuk pensiun pada 2009 kemudian Howard mendatangi saya dan berkata, 'hai, bagaimana jika kita bermain untuk senang-senang?'," kata Gunawan.


"Kemudian pada 2010, kami naik menjadi peringkat 12 dunia, kemudian Bulu Tangkis AS (USAB) berbicara pada kami dan mengatakan 'mengapa Anda tidak menggunakan pertandingan terakhir untuk Olimpiade?'," kata Gunawan.


"Jadi di sinilah kami," katanya menambahkan.


Pecinta bulu tangkis Indonesia bergembira ketika cabang olahraga ini masuk program Olimpiade di Barcelona 1992 dan olahraga ini telah menyumbang enam medali emas Olimpiade sejak itu.


Gunawan kemudian memutuskan untuk pindak ke AS setelah meraih gelar juara dunia 2001 bersama pasangan Indonesia Halim Haryanto Ho.

UJI KEWARGANEGARAAN

Ia sesungguhnya mengejar karier kepelatihan tetapi malah meraih gelar juara dunia bersama Bach empat tahun kemudian.


"Saya sudah memberikan seluruhnya untuk Indonesia, saya mendapat emas Olimpiade serta kejuaraan dunia dan saya rasa ini waktunya untuk terus berjalan, terutama untuk keluarga dan anak-anak saya," kata Gunawan.


"Saya sama sekali tidak bermain selama dua tahun tapi saya kembali bermain bersama Howard karena kejuaraan dunia 2005 berlangsung di AS," kata Gunawan.


"Tanpa diduga kami menang. Hal ini sama sekali di luar rencana (selama karir olahraga), kami hanya mengambil peluang yang datang," katanya menambahkan.


Ia lulus uji kewarganegaraan AS tahun lalu untuk memenuhi syarat mengikuti Olimpiade London dan tidak terlalu berambisi mengalahkan raksasa China di Arena Wembley.


Meskipun bertanding di umur yang kebanyakan mantan pemain duduk di bangku penonton dan mengenang masa keemasan mereka, Gunawan masih merasakan lapar untuk membantu tim AS yang beranggotakan tiga orang itu meraih medali.


"Fisik saya masih utuh dan saya akan tetap berada di jalan ini," katanya sambil tertawa.


"Kami mencoba yang terbaik. Ini bukan kesempatan besar, kecil kemungkinan. Tetapi ini Olimpiade dan apapun bisa terjadi. Tentu target kami meraih emas untuk sejarah AS," katanya menambahkan.


Pemain terbaik bulu tangkis di Indonesia layaknya selebriti, mereka mampu menarik keuntungan besar dari sponsor dalam negeri dan termotivasi dengan hadiah tunai besar dari pemerintah.


Lain cerita di AS dengan kebanyakan pemain berlatih sambil bekerja atau sekolah. Kepala pelatih tim AS Ben Lee adalah polisi yang harus cuti bertugas dari jalanan Silicon Valley kota Palo Alto untuk datang ke London.


"Kami sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan China saat ini," kata Lee kepada Reuters.


"Tetapi, setelah cukup lama terlibat di bidang olahraga, sudah terjadi perkembangan pesat," kata Lee.


"Di California terdapat lebih dari 20 klub bulu tangkis, sepuluh tahun lalu tidak ada satu pun," kata Lee yang bermain bulu tangkis untuk AS di Olimpiade 1992.


Gunawan memiliki satu sekolah bulu tangkis yang dikelola bersama istrinya di pinggiran Los Angeles, sementara lebih banyak pemain AS papan atas, termasuk Rena Wang yang akan bertanding nomor tunggal puteri di Olimpiade, tinggal di Kalifornia.


Lee hanya memiliki waktu sekitar satu bulan untuk melatih timnya menuju perebutan medali pada 28 Juli - 5 Agustus dan merasa AS memiliki pemain yang mampu memberikan dorongan besar bagi bulu tangkis di negara itu.


"Tentu saja. Tidak hanya untuk ajang ini, tetapi seluruh acara di AS. Memiliki seseorang pada tingkat itu, akan membuat segala sesuatu semakin baik," kata Lee.


"Dia banyak melatih anak muda dari awal sebagai langkah memajukan pemain muda, dan itu sungguh hebat," kata Lee.


"Kami butuh lebih banyak orang seperti dia," katanya menambahkan.




Sumber: bisnis.com

0 komentar: