Sabtu, 16 Juni 2012

Processor Multi Core


Trend hardware pada perangkat Android mengarah pada penggunaan prosesor multi-core yang sudah mulai banyak ditemukan di perangkat-perangkat terkini. Akan tetapi, platform mobile buatan Google itu disebut Intel belum siap untuk menerima prosesor dengan dua inti atau lebih.


Raksasa produsen mikrochip ini mengatakan bawa para vendor system-on-chip (SoC) untuk Android belum mengoptimalisasi Android untuk penggunaan prosesor multi-core.


General Manager Grup Mobile dan Komunikasi Intel Mike Bell mengatakan, elemen thread scheduler dari sistem operasi Android tidak bisa memakai prosesor ber-inti banyak dengan efisien.


Akibatnya, lanjut Bell, pengujian internal Intel menunjukkan bahwa prosesor multi-core justru bisa membuat Android berjalan lebih lamban ketimbang prosesor single-core.


"Saat sistem operasi mengerjakan satu tugas tertentu, yang lainnya akan berhenti. Jadi, saat bergerak menuju produk multi-core, kita harus memperbaiki software-nya agar bisa memakai kemampuan prosesor dengan inti banyak," ujar Bell, seperti dikutip oleh The Inquirer.


Lebih lanjut, Bell mengatakan bahwa optimalisasi software diperlukan agar Android bisa berlari kencang di prosesor multi-core. "Saat ini hambatan terbesarnya adalah para pembuat hardware yang belum berupaya memperbaiki peranti lunak mereka,"jelas Bell.


Intel sendiri masih mengandalkan prosesor single core Atom "Medfield" untuk melawan prosesor-prosesor ARM multi-core dari produsen lain pada platform Android.


Bell tidak merinci  kapan Intel akan mengeluarkan prosesor Atom multi-core untuk Android, tetapi mengatakan bahwa Intel sedang bekerja memperbaiki elemen thread scheduling dan handling yang  berkaitan dengan  optimalisasi prosesor ber-inti banyak pada Android. 


Sistem Operasi Android pertama yang bisa memakai hardware multi-core adalah versi 2.3.4 yang dirilis setahun lalu pada April 2011. Sebelum itu, OS buatan Google ini belum bisa memanfaatkan inti tambahan pada prosesor.


Sumber: tekno.kompas.com
             theinquirer.net

0 komentar: