Selasa, 01 Mei 2012

HUT Israel Dihadiri Beberapa Politisi Indonesia


Hadirnya 10 warga Indonesia dari kalangan politisi dan pengusaha ke perayaan ulang tahun negara Zionis Israel pada Kamis (26/4) lalu, menuai kecaman dari para tokoh agama.


"Mereka yang datang ke undangan Israel itu orang-orang yang membangkang pada pemerintah atau bisa disebut simpatisan Israel," cetus Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia Syuhada Bahri, Senin (30/4).


Cap pembangkang disematkan Syuhada karena tegas-tegas Indonesia menyatakan tidak menjalin hubungan diplomatis dengan Israel. Pasalnya, negara Zionis ini telah melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia di level tertinggi terhadap rakyat Palestina. Komitmen negara Indonesia sejak zaman pemerintahan Sukarno pun terus dipenuhi.


"Di tengah kondisi negara yang kacau balau dan menderita, semestinya para politisi dan pengusaha tadi tidak berbuat sesuatu yang melahirkan kegoncangan di dalam negeri,"ujar Syuhada.


Dia pun mengimbau agar para WNI tersebut tidak menindaklanjuti kegiatan mereka di lingkungan Israel. Lantaran bakal muncul tengara jika kedatangan mereka menjalin deal politik ataupun bisnis. "Toh mereka tak dihukum Israel jika tak memenuhi undangan. Apa sih yang mau mereka capai? Malah justru akan timbul penilaian jika mereka agen Israel," tegas Syuhada.


Setidaknya ada 10 tamu dari Indonesia yang hadir pada peringatan 64 tahun lahirnya negara Zionis itu. Mereka adalah politikus dari Partai Nasional Demokrat bersama istri, perwakilan dari organisasi pemuda Islam, pengusaha, dan pejabat KADIN (Kamar Dagang dan Industri). 


Mereka datang atas undangan Duta Besar Israel buat Singapura Amira Arnon. Arnon menyebut rombongan dari Indonesia itu kawan Israel. Perayaan kemerdekaan Israel itu mengambil waktu sesuai penanggalan Yahudi. Kalau mengikuti kalender Masehi, ulang tahun Israel dilangsungkan setiap 14 Mei.


Salah satu tokoh yang mengaku datang ke acara itu adalah Ferry Mursidan Baldan dan istrinya. Menurut Ferry, ia hanya sebatas memenuhi undangan. Mantan anggota DPR RI itu menyatakan dirinya terbiasa membuka hubungan komunikasi dengan siapa pun termasuk dengan Israel.


Menurut Ferry, menghadiri undangan peringatan Hari Kemerdekaan Israel oleh Kedutaan Besar Israel di Singapura merupakan hal yang lumrah dan tanpa maksud apa pun. ''Itu undangan pribadi yang dikirim resmi oleh dubes Israel. Buat saya lumrah ya, saya biasa membina komunikasi dengan siapa saja," ujarnya saat dihubungi ROL Senin (30/4).


Kehadirannya dalam acara tersebut, kata dia, sebatas membina hubungan baik dan komunikasi dengan kolega. Ia mencontohkan, dirinya bahkan juga sering berkomunikasi dengan beberapa kawan dari Taiwan, FPI, GAM, Thailand Selatan, Selandia Baru, hingga Vatikan. Menurutnya sebagai politisi yang memiliki latar belakang di bidang Hubungan Internasional adalah wajar menjalin komunikasi dengan siapa pun.


Ia mengaku tak khusus membicarakan rencana Israel membuka hubungan diplomatik dengan Indonesia. Namun, dalam pembicaraan ringan dengan duta besar Israel malam itu, kata Ferry, dirinya menyampaikan pandangan mengenai keberpihakan Indonesia pada Palestina. 


"Mereka tahu kok mengenai keberpihakan kita pada Palestina," kata Ferry. Namun Ferry sekali lagi membantah dirinya memiliki tujuan khusus saat menghadiri acara tersebut. Ia menyampaikan dirinya perlu membuka komunikasi dengan siapa pun, tanpa perlu melihat posisi Indonesia. 


Sumber: republika.co.id

0 komentar: